Paradigma Jurusan Bahasa | VIN EDUCATION

 

Banyak sekali anak sekolah, terutama yang sedang duduk di kelas 9 SMP/MTs yang sedang mengalami dilema untuk memilih jurusan di SMA nanti, kebanyakan dari mereka kebingungan harus masuk ke jurusan IPA atau masuk ke jurusan IPS, dan sebagian dari mereka tidak ada yang berpikiran ingin masuk ke jurusan Bahasa, bahkan ada yang tidak tau bahwa jurusan bahasa ada di sekolah SMA.

Sebelum membahas Paradigma Jurusan Bahasa kita membahas sedikit tentang sejarah jurusan ini. Dikutip dari (wikipedia.org) Pada tahun 1945 sebagai pada masa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dari SMT berubah menjadi Sekolah Menengah Oemoem Atas (SMOA) pada tanggal 13 Maret 1946 di Jakarta yang bertransfomrasi dari SMT yang menjadi SMOA menempati Gedungan PSKD di Jalan Diponegoro di Salemba.

Pada tahun 1950 sebagai pada masa Republik Indonesia Serikat dari SMOA kemudian berubah nama menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dikategorikan menjadi tiga bagian yakni:

  1. SMA A (Bahasa)
  2. SMA B (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam)
  3. SMA C (Ilmu Sosial)

Pada tahun 1960-an sistem tersebut diubah, semua SMA membuka beberapa jurusan sekaligus baik bagian A (Bahasa), B (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam), maupun C (Ilmu Sosial).

Pada tahun 1980-an sistem penjurusan di SMA diubah lagi, menjadi A1 (Fisika), A2 (Biologi), A3 (Sosial).

Pada tahun ajaran 1994/1995 hingga 2003/2004 dari SMA berubah menjadi Sekolah Menengah Umum (SMU).

Pada tahun ajaran 2004/2005 dari SMU kembali berubah menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA).

Nah, jadi bahasa itu bukan jurusan baru ya, karena sudah ada sejak tahun 1960an.


Paradigma Jurusan Bahasa

Untuk kalian terutama anak bahasa, pasti sering mendengar bahwa Jurusan Bahasa itu adalah "Jurusan Buangan", Jurusan yang sepi peminat, tidak mampu bersaing dengan jurusan yang lain, Jurusan yang di anggap remeh karena hanya mempelajari Bahasa. Dalam kuesioner yang pernah saya bagikan, ada salah satu partisipan yang menjawab bahwa "Bahasa itu bukan segalanya, tetapi segalanya akan hancur jika tidak ada bahasa".

Indonesia sendiri memiliki Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia, bayangkan jika Negara kita tidak memiliki Bahasa Persatuan, apa yang akan terjadi? Yang pasti, orang-orang akan susah untuk berkomunikasi, apalagi di Indonesia banyak sekali ragam Suku, Bahasa dan Ras. Tapi kan masih ada Bahasa Daerah? Benar sekali, tetapi apakah bisa dipahami semua orang? Nah ini lah yang dikatakan Duniamu seluas Bahasamu, semakin banyak Bahasa yang kita pelajari maka semakin luas juga Wawasan kita.

Tapi sejauh ini banyak yang meremehkan Jurusan Bahasa karena yang dipelajari hanya sebuah Bahasa, apalagi Bahasa Indonesia karena mereka beranggapan sudah menguasai Bahasanya sendiri, padahal dalam pelajaran Bahasa Indonesia itu tidak hanya sekedar bisa, tetapi masih banyak hal lain yang perlu dipelajari. Kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus mempelajari Bahasa Indonesia dengan sungguh-sungguh untuk memperkaya kata-kata Bahasa Indonesia yang kita miliki. Tidak ada ruginya bagi kita untuk mempelajari Bahasa Indonesia lebih dalam lagi, justru dengan mempelajari Bahasa Indonesia kita akan mendapat manfaat yang akan membantu kita dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain mempelajari Bahasa Indonesia kita di Jurusan Bahasa juga mempelajari Bahasa Asing, kalo di Sekolah saya dulu ada Bahas Inggris dan Bahasa Arab. Lalu apakah kita perlu untuk mempelajari Bahasa Asing tersebut? Sangat perlu, apalagi jika kalian bercita-cita sebagai penerjemah.

Dikutip dari (kompasiana.com) Dalam menerjemah teks atau suatu kalimat lainnya, kita tidak bisa mengartikan nya kata perkata, hal ini nantinya akan merubah makna yang berbeda dengan aslinya jika di artikan kata perkata. Di dalam Bahasa Inggris terdapat idiom yang mana idiom tersebut tidak dapat sembarang orang bisa mengartikannya. Di dalam Bahasa Arab terdapat uslub, yang mana uslub tersebut juga tidak sembarangan orang yang bisa mengartikan. Idiom atau Uslub adalah dua kata yang memiliki satu arti.

Di dalam Bahasa Inggris dan Arab terdapat kaidah-kaidah dasar untuk mempermudah penerjemah. Di dalam Bahasa Inggris disebut dengan Grammar dan di dalam Bahasa Arab disebut dengan Nahu. Dengan kaidah-kaidah dasar tersebut kita dapat menerjemahkan dengan benar, indah, dan sesuai kaidah yang ada.

Nah, jadi ini yang saya maksud dalam mempelajari Bahasa tidak hanya sekedar bisa, tetapi kita juga harus paham dengan kaidah-kaidah Bahasa yang kita pelajari, tujuannya untuk menyempurnakan ilmu kita dalam berbahasa.

Kembali ke Paradigma Jurusan Bahasa yang selanjutnya "Jurusan Bahasa sepi peminat", kenapa demikian? Ya, karena sudah termakan paradigma yang sudah terlanjur beredar di Masyarakat atau di Internet bahwa Jurusan Bahasa hanya untuk orang-orang buangan yang gagal masuk ke Jurusan IPA/IPS. Kalo menurut saya, kenapa Bahasa sepi peminat dan banyak yang memilih ke IPA bahkan juga ke IPS. Mungkin gengsi, karena Paradigmanya IPA  berisi orang-orang yang pintar karena mempelajari Matematika, Fisika dan Kimia, dan IPS mempunyai paradigma orang-orang yang populer. Kedua jurusan ini banyak mendapat perhatian, banyak menjadi bahan perbincangan, sorotan dan berbagai komentar serta tanggapan. Sedang Bahasa memiliki paradigma seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, itulah yang menyebabkan rasa Gengsi  itu muncul, banyak  yang berpikir kita harus ke jurusan ini, kita harus masuk ke jurusan itu tanpa mengetahui minat dan bakat yang sebenarnya. Menurut saya dalam menentukan jurusan itu harus sesuai Passion bukan sekedar mengikuti gengsi.

Jika kalian masuk ke Jurusan A tetapi masih merasa terbebani berarti itu bukan Passion kalian, kenapa saya mengatakan seperti itu? Karena jika kita melakukan sesuatu karena Passion, pasti kita tidak merasa terbebani. Contohnya kita melakukan kegiatan atau sedang belajar dan kita merasa waktu itu berjalan dengan cepat, padahal kita melakukan kegiatan tersebut sudah berjam-jam, dan mungkin orang lain menganggap kegiatan yang kita lakukan itu suatu hal yang melelahkan tetapi karena itu Passion kita, maka kita menganggap hal itu menyenangkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sergey Ponomarenko Time Traveler Misterius #DesignEducation

Suka Duka Jadi Anak Bahasa

Indonesia Tempoe Doeloe